Halo, Pejuang! Selamat datang di rumah yang takkan sunyi.

Di sini kita bisa cerita-cerita, meskipun hanya sebatas lewat komentar. Oh ya, udah sampai halaman ke berapa baca buku Rahasia Melepaskan? Bagaimana perasaan kamu setelahnya? Aku pengen denger semua perjuangan kamu setelah membaca buku itu.

Jujur, menulis buku tentang sekumpulan pengalaman pribadi apalagi dengan terang benderang seperti itu kadang membuatku takut. Takut apakah ini layak diceritakan atau tidak.

Iya, ini buku tentang rahasia melepaskan, bukan tentang rahasiaku. Jadi, sedapat mungkin aku baca berulang-ulang sebelum menerbitkannya, melepas yang terlalu emosional, dan mempertahankan yang sekiranya mengandung hikmah.

Jika ada hal-hal yang ternyata tak sesuai dengan yang seharusnya, maka itu murni kesalahanku. Dan jika itu sampai tepat ke hatimu, maka itu kerja Tuhan yang tak pernah absen mencintaimu.

Lalu kenapa aku begitu berani menceritakan sisi-sisi lain dari diriku yang jarang orang lain ketahui?

Aku ingat bahwa Umar bin Khattab sering dikisahkan sebagai seorang pendosa yang kemudian berhijrah. Beberapa orang menolak mendengar kisah itu. Kata mereka, seorang pemimpin dua pertiga dunia tak boleh dicederai sejarahnya dengan rekam jejak yang buruk.

Tapi, menurutku, dengan mengetahui dengan jelas bahwa sosok sehebat Umar bin Khattab saja punya masa kelam, aku punya harapan besar untuk berubah jadi lebih baik. Tentu, agar aku bisa menebus semua dosaku dengan torehan prestasi di hadapan Tuhan.

Aku menuliskan semua itu di buku semata agar kamu tahu bahwa aku juga punya medan juang yang sama. Sama sepertimu; bertempur melawan diri sendiri. Aku punya masa lalu yang buruk. Aku punya rasa takut. Keluargaku tidak baik-baik saja. Aku juga sempat jatuh cinta.

Tapi, aku bukan orang sehebat Umar bin Khattab. Aku hanya seorang manusia yang butuh dituntun.

Barangkali dengan menuliskan buku Rahasia Melepaskan, Tuhan menuntunku untuk memulihkan diri sendiri, membebaskan hati ini dari segala kotoran. Kotoran-kotoran itu telah mengaburkan padanganku dari melihat cahaya Tuhan. Bahkan kotoran-kotoran itu juga dengan lihai bersembunyi di balik kebaikan.

Kaulah saudara seperjuanganku, Adikku. Saudara dalam upaya melepaskan. Aku tak tahu usiamu berapa, mungkin kau lebih dewasa dari yang kusangka. Tapi aku terbiasa memanggil Adik pada siapa pun. Karena aku selalu bermimpi bisa berada dalam barisan Rasulullah dengan adik-adik di belakang punggungku.

Adikku, sekarang, peluklah dirimu sendiri! Lepaskan ia dari kebimbangan tentang hari ini, ketakutan akan masa lalu, dan kecemasan akan masa depan.

Rezeki. Jodoh. Bahkan, kematian. Semua itu sudah dalam genggaman Tuhan. Tak ada yang patut kita kejar selain satu-satunya yang belum Tuhan jamin; ialah surga—sebuah tempat istirahat paling langgeng yang hanya bisa dibayar dengan ketaatan.

Dan ciri hamba yang taat adalah ketika ia mau membuka hatinya untuk mendengar, juga berbagi. Ketaatan yang bukan kamuflase takkan membuat kita merasa lebih dari yang lain, tapi justru sering menginsyafi diri.

Ketaatan yang murni takkan membuat kita sekadar peka pada lawan bicara, tetapi peka pada hati sendiri untuk memeriksa…

mana yang patut dilepaskan dari hati ini dan mana yang pantas diperjuangkan.

Peluk erat,

Kartini F. Astuti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *